Be-songo.or.id

Transformasi Santri di Era Digital: Darul Falah Besongo Semarang Gebrak Stigma Melalui Penguasaan AI dan Literasi Bisnis

SEMARANG, wajah pesantren masa kini tidak lagi hanya berkutat pada kitab kuning dan retorika keagamaan. Di sudut Kota Semarang, tepatnya di Pondok Pesantren Darul Falah Besongo, sebuah pergerakan ekonomi kreatif tengah digulirkan. Pada Minggu, 29 Maret 2026, ratusan santri berkumpul bukan untuk pengajian rutin, melainkan untuk membedah strategi digital marketing, product promotion, hingga teknik business mapping yang presisi.

Rangkaian seminar pelatihan ini merupakan kristalisasi ilmu yang sebelumnya diperoleh delegasi santri dalam acara bergengsi “Digital Marketing dan Teknik Penataan Parcel” yang diinisiasi oleh BAZNAS Provinsi Jawa Tengah di Masjid Agung Jawa Tengah pada pertengahan Maret lalu.

Kaderisasi Strategis: Dari Mahasiswa, Oleh Santri, Untuk Umat

Peserta pelatihan kali ini difokuskan pada santri kelas 3, yang secara akademis berada di semester 6 perkuliahan. Mereka bukan sekadar peserta, mereka adalah pengurus pondok yang mengemban misi sebagai Agent of Change.

Langkah ini dinilai sebagai strategi kaderisasi yang esensial. Dengan membekali para senior, pesantren tengah membangun mata rantai transfer ilmu yang berkelanjutan. Harapannya, para pengurus ini dapat menjadi mentor bagi adik-adik kelas mereka, memastikan bahwa literasi digital menjadi napas baru dalam kurikulum kemandirian pesantren.

Membangun Kepercayaan di Dunia Maya: “Brand is Simply Trust”

Dalam sesi sharing information, narasi yang dibangun melampaui sekadar teknik jualan. Mengadopsi pemikiran Wijayanto (Founder & CEO Whizisme), para pemateri menekankan bahwa esensi dari Digital Marketing bukanlah algoritma semata, melainkan kepercayaan.

“Brand is simply trust,” ujar pemateri mengutip pesan Wijayanto. Membangun merek adalah tentang membangun reputasi dan konsistensi, sebuah filosofi yang juga dipegang teguh oleh visioner dunia, Steve Jobs.

Para santri diajak memahami bahwa di dunia digital yang serba cepat, integritas (kejujuran) yang menjadi nilai dasar pesantren adalah modal utama dalam memenangkan persaingan pasar.

Gemini dan AI: Solusi Kreatif Hemat Biaya

Salah satu aspek yang paling menarik perhatian adalah integrasi kecerdasan buatan (AI) seperti Gemini ke dalam alur kerja bisnis. Para santri diajarkan bagaimana memanfaatkan AI untuk melakukan product mapping, riset target pasar yang spesifik, hingga merancang copywriting yang menarik.

Pemanfaatan teknologi ini dipandang sebagai solusi revolusioner bagi santri dan pelaku usaha mikro. Dengan bantuan AI, hambatan biaya untuk jasa kreatif yang biasanya mahal dapat diminimalisir, memberikan ruang bagi santri untuk tetap kompetitif meski dengan anggaran terbatas.

Pelatihan Parcel: Sinergi Estetika dan Kemandirian Ekonomi

Sebagai puncak kegiatan, Pelatihan Parcel menjadi manifestasi nyata dari perpaduan nalar bisnis mahasiswa dan kreativitas santri. Di sini, decision making yang presisi diuji, bagaimana menyusun produk yang memiliki nilai jual tinggi sekaligus estetika yang memikat.

Sinergi ini bertujuan menciptakan kemandirian ekonomi masyarakat yang berbasis pada inovasi. Lebih jauh lagi, agenda ini merupakan pernyataan sikap untuk menghapuskan stigma lama di masyarakat.

“Kita ingin memutus stigma bahwa santri hanya tahu soal agama dan buta akan dunia luar. Hari ini, santri membuktikan bahwa mereka mampu bersaing di garda terdepan ekonomi digital tanpa kehilangan jati diri religiusnya,” ungkap salah satu perwakilan penyelenggara.

Melalui langkah nyata ini, PP Darul Falah Besongo Semarang tidak hanya mencetak ahli agama, tetapi juga melahirkan teknokrat dan pengusaha muda yang siap menjawab tantangan zaman dengan integritas dan inovasi.

Oleh: Abdussalam Bariklana (Santri Pondok Pesantren Darul Falah Besongo)

REKOMENDASI >