Bacaan
MEMANDANG DENGAN <em>ISYQ</em> ALA RUMI DALAM MATSNAWI MAKNAWI

MEMANDANG DENGAN ISYQ ALA RUMI DALAM MATSNAWI MAKNAWI

Siapa yang tidak kenal dengan sufi agung Maulana Jalaluddin ar-Rumi. Tokoh sufi agung dalam sejarah yang membaktikan hidupnya dalam samudra  keilahian dan tokoh sepanjang zaman. Bukan hanya digandrungi oleh orang Islam, tapi juga orang-orang non-muslim terutama di barat. Bahkan pada 2007 tepatnya 800 tahun pasca wafatnya Rumi, oleh UNESCO dinobatkan sebagai tahun Rumi. Nama lengkapnya Jalaluddin Muhammad bin Baha’uddin Walad al-Khatibi al-Bahri. Rumi dilahirkan pada tanggal 6 Rabi’ul Awal 604 H sama dengan 30 September 1207 M di Balkh, Afghanistan sekarang. Ketika itu wilayah tersebut merupakan bagian dari wilayah kerajaan Khwarizmi yang beribu kota di Bukhara, Transoksiana. Rumi wafat pada tanggal 5 Jumadil Akhir tahun 672 H sama dengan 16 Desember 1273 M di Konya tepatnya di Rum, sehingga disebut sebagai “ar-Rumi” sebagai nisbat. Pada masa Rumi penduduk kota itu terdiri dari orang-orang Arab, Persia, Turki, Yunani, Armenia dan Yahudi. Orang-orang Kristen keturunan Yunani dan Armenia juga masih banyak terdapat di situ, dan tidak sedikit di antara mereka pernah menjadi murid Rumi. Dia adalah seorang bermadzhab Hanafiyyah. Pengikutnya adalah para pengikut Tariqoh Mawlawiyyah yang ajarannya mengandung ajaran-ajaran Rumi yang disusun oleh sahabatnya Syekh Husyamuddin.

Perjalanan sufistik Rumi

Guru dari Rumi adalah ayahya sendiri dan beberapa ulama’ besar lainnya, Sebelum tampil sebagai ahli tasawuf dan sastrawan terkemuka, Rumi merupakan seorang guru yang memiliki banyak murid dan pengikut. Pertemuan Rumi dengan dunia sufistik sebenarnya sudah dilakukan sejak ia lahir. Ayahnya adalah seorang sufi bahkan waliyullah yang sangat luar biasa dimasa itu dan dikenal juga sebagai sulthonul auliya’. Saat kecil, Rumi pernah diajak oleh ayahnya bertemu dengan dengan Fariduddin al-Atthar, seorang sufi yang juga sangat masyhur. Beliau mengatakan, “lihatlah, lautan datang, dan dibelakangnya adalah samudra”. Seakan akan meliat bahwa Rumi kecil ini akan menjadi sosok yang besar.

Kemudian ketika berusia 36 tahun, dia sudah bosan mengajar ilmu-ilmu formal. Dia menyadari bahwa bahwa pengetahuan formal saja tidak mudah mengubah jiwa murid-muridnya. Sebelum jiwa dan pikiran seseorang mendapat pencerahan, tidak akan ada perubahan itu terjadi menurut Rumi. Perubahan besar akan minatnya dalam dunia tasawwuf berkobar ketika ia bertemu dengan Syamsuddin at-Tabrizi. Sosok luar biasa yang waktu itu dianggap Rumi sebagai gurunya yang sangat berpengaruh baginya. Nama Syamsuddin at-Tabrizi disebut juga dalam serat Jawa dengan Nama Syeh Sutabriz, yang dikisahkan bertemu dengan Sunan Kalijaga.

Ketika Rumi telah bertemu dengan Syamsuddin at-Tabrizi yang membuat bakatnya sebagai penyair hidup kembali. Maka setelah itu lahirlah syair-syair yang indah dari tangannya bertemakan cinta dan kerinduan mistikal (yang kemudian disebut isyq) dengan semburat makna tasawwuf. Tetapi seperti dikatakan Syamsuddin at-Tabrizi, isyq dapat mentransformasikan jiwa seseorang menjadi lain. Rumi bukan saja mengalaminya. Cintanya pada gurunya yang tak kunjung dijumpainya lagi sejak perpisahannya yang terakhir, kini berubah menjadi cinta transendental, yaitu cinta ilahiyah. Maka ia pun mengakhiri pengembaraannya dan kembali ke Konya untuk mengajarkan penemuannya yang baru dalam ilmu tasawuf kepada murid-muridnya. Sejak itu Rumi bukan saja masyhur sebagai ahli tasawuf dan guru keruhanian, melainkan juga sebagai sastrawan agung dan budayawan terkemuka di seantero dunia Islam. Nama Syamsuddin At-Tabrizi sendiri sangat simbolis bagi Rumi. Dari nama ini Rumi dalam syair-syairnya yang seolah-olah merujuk kepada guru dan Tuhan sekaligus.

Setelah mempelajari tasawuf, Rumi menyadari bahwa dalam diri manusia terdapat sesuatu yang tersembunyi, yang jika dijelmakan sungguh-sungguh dengan cara yang tepat akan dapat membawa manusia meraih kebahagian dan pengetahuan luas. Sesuatu yang tersembunyi itu ialah `Isyq. Rasa cinta dan kerinduan dengan semburat makna tasawwuf Dalam ranah tasawuf, para guru sufi juga memiliki otoritas yang mumpuni dalam memahami jiwa manusia. Mereka berhadapan langsung dengan pertarungan panjang dalam diri, baik melalui pengalaman pribadi maupun hasil pengajaran yang diberikan kepada murid-muridnya. Jalaluddin Rumi, termasuk di antara guru sufi yang secara mendalam menjelaskan konsep rasa dan cinta (Isyq) dari berbagai perspektif. Terlebih, pandangan ini mengkristal dalam kitab Matsnawi Ma’nawi

Matsnawi Maknawi

Dalam hidupnya Rumi menulis beberapa karya yang mengandung unsur sufistik yang sangat Kental seperti,  Diwan syamsut Tabriz. Maktubat. Rubaiyyat, dan Matsnawi Maknawi. Matsnawi Ma’nawi atau Matsnawi dari Jalal Al-Din Rumi ini adalah karya terbesar Jalaluddin Rumi yang berisi puisi panjang sekitar 25.000 bait berima, yang dibagi menjadi enam jilid. Karya ini memakan waktu lima belas tahun dari hari-hari terakhir kehidupan Rumi. Karya ini menyajikan ajaran mistik Rumi dengan indah dan kreatif melalui anekdot, tradisi kenabian, kisah, dan kutipan dari al-Qur’an. Pengikut Rumi menganggapnya sebagai wahyu tentang makna batin al-Qur’an, Hal ini wajar karena buku ini ditulis dalam bentuk prosa, meskipun di beberapa bagian Rumi juga menulis beberapa puisi, seolah-olah Fihi Ma Fihi ditulis oleh Rumi untuk masyarakat umum dan pemula di jalan sufi, sedangkan Matsnawi untuk para ahli dan ulama’, sampai banyak yang mengatakan bahwa Matsnawi ini adalah al-Qur’annya Persia.

Penulisan Matsnawi ini dilakukan di tahun-tahun terakhir kehidupan Rumi, saat ia ditinggalkan oleh Syamsuddin at-Tabrizi. Saat ini pula muncullah tarian berputar rumi yang dikenal saat ini bernama The Whirling Darwis. Saat itu Rumi mengunjungi muridnya Sholahuddin, seorang pandai besi. Dia saat itu mendengar ketukan besi, yang didengarannya saat itu adalah irama “Allah” dan wirid yang langsung menyahut hatinya dan dia kemudian menari dengan berputar sambil terus mengingat nama “Allah.”

Isyq dalam Matsnawi Maknawi

Ada sebuah gagasan dasar sebelum membaca pikiran Rumi dan hampir diterapkan dalam membaca pikiran semua tokoh sufi sufistik adalah “melampaui semua hal yang lahiriyah.” Kemudian, seperti yang tertulis dalam, Fihi Ma Fihi, “segala sesat yang tampak didepan kita, bukan hakikat sesat yang sesungguhnya. Yang tampak dari bumi adalah debunya. Namun dibalik debu itu, terdapat sifat-sifat tuhan yang mengejawantahkan. Dimensi sebenarnya didalamnya adalah emas permata, sementara dimensi luarnya adalah sebongkah batu.” Oleh karena itu, Rumi adalah sosok yang secara sufistik memandang segala sesuatu dengan maknanya.

Isyq bagi Rumi memiliki arti sebagai “perasaan sejagat” atau “Sebuah ruh persatuan dengan alam semesta”. Isyq adalah pemulihan terhadap kesombongan yang melekat dalam diri manusia, tabib segala kelemahan dan dukacita. Isyq juga adalah kekuatan yang menggerakkan perputaran dunia dan alam semesta. Dan Isyq púlalah yang memberikan makna bagi kehidupan dan keberadaan kita. Makin seseorang mencintai, makin larutlah ia terserap dalam tujuan-tujuan ilahiyah kehidupan. Dalam tujuan-tujuan ilahiyah penciptaan inilah manusia memperoleh makna yang sebenarnya dari kehidupannya di dunia dan itu pulalah yang memberinya kebahagian rohaniah yang tidak terkira nilainya.

Rumi berpendapat bahwa untuk memahami kehidupan dan asal usul ketuhanan dirinya, manusia dapat melakukannya melalui jalan “Isyq”, tidak semata-mata melalui Jalan Pengetahuan. Cinta adalah asas penciptaan alam semesta dan kehidupan. Isyq adalah keinginan yang kuat untuk mencapai sesuatu, untuk menjelmakan diri. Rumi malahan menyamakan cinta dengan pengetahuan intuitif. Secara teologis, Isyq (cinta) diberi makna keimanan, yang hasilnya ialah haqq al-yaqin, keyakinan yang penuh kepada Yang Haqq.

Menurut Rumi dalam Matsnawi ini adalah bagaimana kita mampu menjadikan Isyq atau asas rasa cinta ini adalah hanya sebatas cinta dari mata. Namun juga mampu memahami dan memendam dalam asas ini didalam hati. Dengan menjadikan cinta sebagai perantara pandangan atau melihat yang lain. Kata Rumi,

Jangan kau seperti Iblis…

Hanya melihat air dan lumpur dalam diri Adam…

Lihatlah diatas dan dibalik lumpur itu terdapat beribu-ribu taman yang indah…

Rumi ingin mengingatkan kita atau menyindir mengenai perasaan kita yang seringkali bertemu dengan hiasan hiasan keburukan seperti rasa benci. Ketika kita membenci seseorang, maka entah baik atau buruk yang dilakukan orang tersebut, maka yang terlihat hanya keburukannya saja. Namun ketika kita mampu melihat yang lain tidak terkecuali, bahkan iblispun dengan rasa cinta dengan isyq maka tidak akan kotor hati maupun pikiran kita. Karena kita hanya melihat hal-hal yang bersifat lahiriyah. Padahal sejelek apapun orang, ia memiliki secercah kebaikan yang terdapat dalam dirinya.

Hal ini terkisah ketika Rumi masih mengikuti Syamsuddin at-Tabrizi. Sang guru ang sangat dicintainya ini  menyuruh Rumi untuk membelikan arak. Rumi pun agak kaget dan isykal ketika ingin memenuhi keinginan gurunya. Namun, karena rasa cinta dan ta’dhim kepada gurunya ini lebih besar, maka ia pun tetap melaksanakan perintah itu.singkat cerita, walaupun sudah menyamar, Rumi ketahuan oleh masyarakat dan muridnya sehingga kemudian ramai orang memukuli dan menyumpahi Rumi saat itu, sehingga kemudian diselamatkan Syamsuddin at-Tabrizi dengan karomahnya yang menjadikan arak itu menjadi susu. Kemudian Syamsut Tabriz ini pun berkata, “tidaklah kau lihat manusia itu hanya melihat jubah kebesaranmu, mereka tidak mau memanivestasikan perilakumu. Apa kau bangga dengan jubah lahiriah itu?”

Oleh karena itu dalam konsepnya, Rumi mengatakan bahwa Isyq atau pandangan cinta adalah penggerak kehidupan dan perputaran alam semesta. Cinta yang sejati dan mendalam, kata Rumi, dapat membawa seseorang mengenal hakikat segala sesuatu secara mendalam, yaitu hakikat kehidupan yang tersembunyi di balik bentuk-bentuk formal kehidupan. Karena cinta dapat membawa kepada kebenaran tertinggi, Rumi berpendapat bahwa cinta merupakan sarana manusia terpenting dalam menstransendensikan dirinya, terbang tinggi menuju Yang maha Esa. Kata Rumi dalam Matsnawi:

Inilah Cinta (Isyq): Terbang tinggi ke langit…

Setiap saat mencampakkan ratusan hijab…

Mula-mula menyangkal dunia (zuhd)…

Pada akhirnya jiwa berjalan tanpa jasad…

Cinta memandang dunia benda-benda telah raib…

Dan tak mempedulikan yang hanya tampak di mata…

Ia memandang jauh ke balik dunia rupa…

Menembus hakikat segala sesuatu…

(wallahu a’lam Bisshowab)

Oleh: Ulis Syifa’ Muhammadun (Santri Darul Falah Besongo Semarang dan Mahasiswa UIN Walisongo Semarang)

Tinggalkan Balasan