Be-songo.or.id

GALERI MANUSKRIP

روضة العلماء ٢
 
Terlindungi:

Makna Dibalik Lailahaillallah yang Belum Banyak Diketahui

Bacaan lailahaillallah merupakan kalimat toyyibah yang hakikatnya sudah menjadi kebiasaan yang dilafalkan oleh umat muslim. Tujuannya adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah. Selain itu, kalimat lailahaillallah juga merupakan bentuk persaksian bahwa adalah Allah satu-satu-Nya Tuhan dan tidak ada sekutu bagi-Nya.

Banyak sekali waktu dan keadaan yang digunakan umat muslim untuk berdzikir lailahaillallah seperti setelah sholat, ketika i’tikaf di masjid, mengaji, tahlilan dan sebagainya. Keutamaan yang diperoleh seorang muslim yang mengucapkan lailahaillallah pun banyak sekali diantaranya dibukanya pintu surga, terbebas dari siksaan Allah SWT, diampuni dosa-dosanya, dan lain sebagainya.

Meski demikian, dewasa ini tidak jarang ditemukan orang yang tidak mengetahui makna sebenarnya dari kalimat lailahaillah, tidak sedikit seorang muslim masih salah mengartikan kalimat lailahaillallah. Mereka hanya mengikuti makna apa yang sudah tersebar secara luas dan lumrah di masyarakat tanpa mencari tahu apa makna yang sebenarnya dari lailahailallah.

Baca Juga: Rais PWNU Jateng: Peran Ibu Nyai Penting dalam Pendidikan Pesantren

Menurut Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Bahauddin Nursalim (Gus Baha), pemaknaan kalimat lailahaillallah yang artinya tidak ada tuhan yang wajib disembah, kecuali Allah, maka akan memunculkan pemaknaan yang berbeda dan makna tersebut salah.

“Tidak ada tuhan yang wajib disembah, kecuali Allah. Maka maksudnya bagaimana? Jika ada tuhan yang lain hukum disembahnya apa? Berarti ada tuhan yang lain hukumnya Sunnah atau makruh untuk disembah?”ujarnya.

“Dengan cara pemaknaan tidak ada tuhan yang wajib disembah kecuali Allah. Maka, berarti ada tuhan lain selain Allah yang masih boleh disembah,” tambahnya.

Pengasuh Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an LP3IA Rembang tersebut kemudian mengutip sebuah perkataan dari kitab Ummul Barahin karangan Imam Sanusi.

Baca Juga: Keutamaan Kalimat Tahlil dalam Kitab Irsyad al-Ibad Ila Sabil al-Rasyad

“Jika ada orang mengatakan (memaknai) keliru (tidak sesuai), maka biarkanlah, tidak usah mengikuti orang-orang tersebut, orang-orang itu maksudnya benar tapi memang perkataanya keliru,” jelasnya.

Ulama yang akrab disapa Gus Baha tersebut menceritakan bahwa pertama kali menerangkan makna lailahaillallah di tempat ngajinya adalah tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah. Dilanjutkan Gus Baha menerangkan makna lailahaillallh yang sebenarnya.

“Jadi makna yang benar adalah tidak ada tuhan yang haq (benar) disembah, kecuali Allah. Maknanya selain Allah itu tidak yang haq (benar) untuk disembah,” lengkapnya.

Kemudian, Gus Baha menerangkan makna lailahaillallah menurut kitab Ummul Barahin karangan Imam Sanusi bahwa jika memaknai lailahaillallah menjadi tidak ada tuhan yang wajib disembah kecuali Allah, maka ketika seseorang bilang tiada tuhan yang wajib disembah, itu status orang tersebut masih sebagai ateis atau sudah Islam?

 “Jadi Atheis dulu, setelah mengatakan “Kecuali Allah” baru masuk  Islam lagi. Itu menjadi repot, mengatakan “Tiada tuhan yang wajib disembah” berarti statusnya masih kafir dulu. Setelah mengatakan “Kecuali Allah” statusnya Islam lagi. Itu semua menjadi berbahaya,” terangnya.  

“Itu berbahaya, berarti lafadz lailaha itu menafikan (mengecualikan) semua Tuhan, termasuk di dalamnya itu ada Allah. Terus kamu mengatakan Illallah kamu masuk Islam lagi. Maka tidak seperti itu cara pemaknaanya menurut imam sanusi. Kalau melihat secara lafadz memang seperti itu. Tapi, maksudnya tidak seperti itu,” tambahnya..

Dilanjutkan Gus Baha mencontohkan kasus makna lailahaillallah menurut Imam Sanusi. Ketika diawal seseorang mengatakan mempunyai tujuh hal, kemudian redaksi berikutnya mengganti bahwa mempunyai sepuluh hal, kecuali tiga hal dari sepuluh hal tersebut.

“Ketika kamu mengatakan punya sepuluh hal, kecuali tiga hal dari sepuluh hal tadi, apakah Anda pernah berpikir bahwa ada sepuluh hal sepenuhnya? Karena dari awal tidak punya sepuluh hal sepenuhnya, anda hanya mempunyai tujuh hal,” ungkapnya.

Baca Juga: Ustadzah Dina Jelaskan Hakikat Puasa: Puasa Mendidik Kita Berbuat Ikhlas

Perumpamaan di atas sama halnya ketika seorang muslim mengatakan tiada tuhan yang haq (benar) disembah, maka apakah tidak terlintas bahwa ada penafikan (pengecualian) untuk Allah? Maka tidak, karena ada maksud mau menetapkan Allah sebagai tuhan. Perumpamaan tadi perlu karena tanpa adanya teori tadi.

“Maka kamu akan menjadi Atheis terlebih dahulu karena menafikan semua tuhan dan baru memasukan Allah yang wajib disembah,” pungkasnya.

Oleh: Ilham Mubarok (Santri Ponpes Darul Falah Besongo Semarang dan Mahasiswa UIN Walisongo Semarang)

Editor: M. Raif Al Abrar