Mengenang Ibu Hj. Nur Hasanah, Jadi Nasihat untuk Kita

Mengenang Ibu Hj. Nur Hasanah, Jadi Nasihat untuk Kita

dari kanan Prof. Dr. KH. Imam Taufiq, M.Ag. dan Dr. KH. Mohamad Arja Imroni, M.Ag. di acara tahlil tujuh hari Almarhumah Ibu Hj. Nur Hasanah (foto/haikal)

Atas nama keluarga saya menghaturkan terima kasih dan meminta maaf yang sebesar-besarnya untuk doa support dan motivasi bapak ibu semua atas wafatnya Ibu Nyai Hj. Nur Hasanah mulai dari pemakaman sampai prosesi tujuh hari pembacaan yasin dan tahlil.

Itulah yang disampaikan oleh KH. Imam Taufiq, Pengasuh Pondok Pesantren Darul Falah (Dafa) Besongo di akhir sesi, mewakili segenap keluarga kepada para dosen, warga, juga mahasiswa baik yang hadir secra luring maupun daring melalui media zoom.

Disampaikan juga, Ibu Hj. Nur Khasanah ini wafat pada usianya yang ke-74 tepatnya lahir pada 4 April 1948 dan wafat pada 9 Februari 2022. Sebelum meninggal beliau sempat dirawat di rumah sakit selama lima hari dan setelah dipulangkan, tidak berselang lama beliau wafat kemudian disemayamkan di Jombang.

“Dan selama sepuluh tahun Ibu saya memiliki ketergantungan dengan obat karena memiliki unsur jantung yang tidak berfungsi,” terang anak sulung dari dua bersaudara tersebut.

Mengenang Ibu Hj. Nur Hasanah, KH. Imam Taufiq ingat akan satu pesan beliau yang selalu dijadikan pegangan. Yaitu dadio wong sng bener, sng tenan (jawa: jadilah orang yang benar, yang serius).

Kematian Adalah Nasihat untuk Kita

Dilanjutkan dengan maidzoh hasanah oleh KH. Mohamad Arja Imroni, beliau menjelaskan salah satu ayat Al-Quran bahwa sesungguhnya kematian yang coba kamu hindari, sesungguhnya akan menemui kamu. Dalam ayat yang lain dijelaskan kematian tetap akan menghampirimu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.

“Itu berarti, sebesar apa pun usaha kita untuk menghindari kematian, kematian pasti akan menemui kita. Dan setakut apa pun kita pada kematian, tetap saja kita mengalami kematian. Sekalipun itu di dunia metaverse,” tambah Dekan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Walisongo tersebut.

Baca juga :  Warna Baru Jurnalistik Be-Songo

Seperti cerita Nabi Sulaiman dan umatnya saat berusaha lari dari kematian, yang dikisahkan dalam kitab tafsir showi. Singkatnya mau ke mana pun kita lari apabila kematian sudah ditetapkan maka tidak ada yang bisa menunda apalagi menghalangi.

“Karena dalam Al-Quran, ‘tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.” Terangnya mengutip Surat Al-A’raf Ayat 34.

Imam Asy-Sya’rawi ketika menafsirkan ayat tersebut menjelaskan yang dimaksud umat adalah semua makhluk Allah. Jadi semua yang bernyawa itu pasti punya masa hidupnya

“Saya kira yang paling penting bukan mauidzoh. Karena kematian itu sendiri sudah menjadi nasihat bagi kita, maka maidzoh yang sangat penting ya kematian itu sendiri,” jelas Wakil Katib PWNU Jateng tersebut.

Wa kafaa bil mauti wa idzho. Maka barangsiapa yang tidak mengambil pelajaran dari kematian, sungguh itu dikarenakan kerasnya hati kita.

“Semoga kita semua diberi ketetapan oleh Allah memegang teguh agama Islam sampai akhir hayat kita,”pungkasnya.

Reporter: Imam Mawardi

Tinggalkan Balasan