Be-songo.or.id

Menyapa Rindu Lewat Doa

Di malam hari aku tiba-tiba saja pingsan di cafe, dengan cepatnya seorang pria yang dekat denganku langsung menolong, cafe itu tak jauh dari tempat perlombaan yang ku ikuti, tak sengaja aku menatap matamu, ku merasakan jatuh cinta, belum sempat mengenal namamu, rasanya aku ingin memilikimu seutuhnya. Tempat dan waktu itu adalah moment yang ku ingat. Sebut saja dia Kurnia (nama samaran), sesosok yang didambakan oleh kalangan santrinya, ku tak tahu dia berasal dari mana, nasab dan orang tuanya, dia juga pengasuh Pondok Pesantren setelah abahnya kapundut. Ya, aku tahu karena temanku sebut saja Fatimah, dia tahu tentang kehidupan  kurnia, ku tak tahu dia mendapatkan informasi sedetail itu.

Lambat laun, Waktu demi waktu, hari demi hari yang ku lewati kini telah berlalu, sambil ku mulai memperbaiki diri. Suatu hari ayah menjengukku, jika dalam bahasa santri sambangan, tiba-tiba ayah mengajakku untuk sowan ke salah satu pondok pesantren yang tak jauh dari pondokku. Saat tiba disana, aku dipertemukan kembali dengan kurnia. Tiba-tiba uminya datang dan bercerita bahwa dia baru saja baru pulang dari mesir, dan dialah yang menjadi penerus abahnya. Di saat tengah pembicaraan umi dengan ayahku, tiba-tiba saja umu bertanya kepadaku “ndok izza, bukannya sampean pernah bertemu dengan nak kurnia?” seketika aku kaget, umi berkata lagi “ dulu yang pernah nolongin sempean ndok” ku diam sejenak lalu berkata “nggh umi, ting cafe”. Lalu umi bertanya kembali kepadaku “ndok izza, mboten pengen mondok ting mriki?” aku pun terkejut dan hati ini bertanya-tanya hingga ku tak menjawab pertanyaan umi. Lalu umi dan kurnia melanjutkan pembicaraan dengan ayahku, ku tak tahu apa yang mereka bicarakan, karena aku saat itu sudah mulai mengantuk. Setelah 3 jam, akhirnya ayah mengajakku untuk kembali ke pondok.

Malam telah tiba, saat ku ingin tidur dan mata ini mulai terpejam, tiba-tiba ku terbangun hanya hati ini kembali bertanya denganku tentang apa yang ditanyakan oleh umi, hingga aku tak bisa tidur kembali. Ku bergegas ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan membaca Al Quran. Tak pernah lupa untuk aku menyelinapkan nama Kurnia setiap ku berdoa, agar rasa rindu ini tidak menghantuiku setiap saat. Semenjak pertemuan itu ku mulai merindukanmu hingga setiap harinya. Tapi, rinduku hanya bisa ku sampaikan kepada Yang Maha Kuasa. Seandainya saja, kejadian itu mungkin ku tak akan merasakan jatuh cinta dan kerinduan. Maaf jika rinduku hanya kusampaikan lewat doa, karena itulah cara ku mencintaimu dan memintamu kepada Allah SWT. Semoga kita dapat dipertemukan kembali dengan cinta yang halal*.

Oleh: Anizzallat Allysyia Sukawi ( Santri Ponpes Darul Falah Besongo Semarang )

Editor: Jazillah