SEMARANG – Di tengah ketatnya situasi ekonomi global di mana nilai tukar rupiah melemah dan dolar kian melambung, peluang emas untuk melanjutkan pendidikan tinggi jenjang Magister (S2) dan Doktoral (S3) secara gratis kini semakin sayang jika disia-siakan. Dalam rapat koordinasi virtual dihadiri oleh 28 relawan penggerak sosialisasi beasiswa dari berbagai unsur, termasuk santri Pondok Pesantren Darul Falah Besongo Semarang, terungkap sebuah komitmen besar untuk melahirkan generasi ulama baru yang responsif gender, moderat, dan mendunia berwawasan global, dan responsif gender melalui program Beasiswa Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal (PKUMI). Rapat persiapan sosialisasi ini dipimpin langsung oleh Dr. Nur Rofiah, Bil.Uzm. selaku Manajer Akademik PKUMI, yang memaparkan visi strategis, program ini untuk tahun kedua kepemimpinannya sejak Desember 2024.
Berdasarkan hasil penjaringan data melalui Google Form yang disebarkan kepada para relawan, Dr. Nur Rofiah menyoroti banyaknya permohonan penjelasan detail mengenai substansi PKUMI. Beliau menyayangkan bahwa hingga saat ini, jaringan Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) belum memanfaatkan program ini secara optimal dan terencana. Banyak simpul jaringan yang belum menyadari keberadaan beasiswa PKUMI. Padahal, visi PKUMI sangat beririsan erat dengan jalur Pendidikan Ulama Perempuan (PUP) yang selama ini diperjuangkan oleh Rahima, maupun Dauroh Kader Ulama Perempuan (DKUP) Fahmina. PKUMI hadir sebagai instrumen nyata untuk mewujudkan peradaban Islam yang berkeadilan, baik bagi laki-laki maupun perempuan, melalui skema beasiswa penuh (full scholarship) hingga lulus.
Kurikulum Moderat untuk Islam yang ‘Rohmatan linnisa’
PKUMI mengusung tagline yang tegas: Moderat Mendunia. Menurut Dr. Nur Rofiah, cara pandang keislaman yang moderat merupakan syarat mutlak bagi tegaknya Islam yang adil gender. Berbeda dengan kelompok tekstualis yang kaku, Islam moderat berpegang teguh pada cita-cita spiritual dan nilai dasar kemaslahatan, sehingga mampu mengejawantahkan nilai-nilai rohmatan linnisa’ (rahmat bagi perempuan) di era kontemporer. Kurikulum ini didesain secara khusus dan diperkuat oleh mata kuliah seperti Tafsir Fiqih Gender serta Tafsir Gender dan Sufisme yang diampu langsung oleh beliau di PTIQ Jakarta.
Program monumental ini lahir dari buah perjuangan Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA. (yang kini menjabat sebagai Menteri Agama RI). Sebagai pelopor kajian gender dalam Al-Qur’an melalui disertasinya yang fenomenal tentang kesetaraan gender, beliau berhasil membangun sinergi antara Badan Pengelola Masjid Istiqlal (BPMI), Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA), serta LPDP. Kerja sama ini diikat dalam Memorandum of Understanding (MoU) jangka panjang yang berlangsung selama 4 tahun and dibuka setiap semester, menjamin keberlanjutan beasiswa ini untuk masa depan.
Karpet Merah Jalur Afirmasi: Diskon TOEFL dan Kuota Tanpa Batas LPDP
Kabar paling menggembirakan bagi para santri, mahasantri, alumni, dan dosen adalah adanya jalur afirmasi khusus yang berhasil dinegosiasikan oleh Imam Besar. Guna mempermudah para kader ulama mengakses beasiswa ini tanpa terganjal regulasi yang kaku, syarat kelulusan bahasa (TOEFL) dipangkas secara signifikan. Selain itu, pihak LPDP menegaskan tidak ada kuota maksimal—siapa pun yang lolos kriteria standar LPDP dan lulus ujian seleksi internal PKUMI dipastikan akan berangkat dengan pembiayaan penuh.
| Jenjang Program | Syarat TOEFL Reguler LPDP | Syarat TOEFL Afirmasi PKUMI |
| Magister (S2) | 500 | 400 (Diskon 100 Poin) |
| Doktoral (S3) | 530 | 450 (Diskon 80 Poin) |
Fasilitas Premium: Short Course 3-6 Bulan di Mesir, Maroko, hingga Amerika!
Daya tarik utama yang membedakan PKUMI dari program LPDP reguler lainnya adalah adanya program Short Course Terintegrasi ke luar negeri tanpa perlu mendaftar ulang. Mahasiswa program S2 akan dikirim selama 3 bulan, sedangkan mahasiswa S3 selama 6 bulan ke universitas-universitas top dunia. Fasilitas ini gratis, didanai penuh, dan para peserta akan menerima uang saku dalam mata uang Dolar Amerika Serikat (USD).
Destinasi short course ini mencakup universitas terkemuka di Timur Tengah dan Barat, antara lain Universitas Al-Azhar (Kairo, Mesir) dan Universitas Al-Qarawiyyin (Maroko) di Timur Tengah, serta University of California Riverside (UCR) dan Hartford International University (HIU) di Amerika Serikat. Khusus di UCR, Amerika Serikat, mahasiswa akan dibimbing langsung oleh Prof. Dr. Muhammad Ali, dosen asal Indonesia yang mengajar di sana, yang akan bertindak sebagai orang tua asuh akademis.
Seruan Aksi: Buka Akses Informasi Seluas-luasnya!
Di akhir arahannya, Dr. Nur Rofiah menyampaikan pesan menyentuh kepada seluruh relawan penggerak. Jika karena kendala usia, keterikatan pekerjaan, atau ketiadaan minat personal membuat kita tidak bisa mendaftar beasiswa ini, maka kewajiban moral kita adalah membukakan pintu informasi tersebut bagi orang lain. “Mari buka akses informasi ini selebar-lebarnya untuk para santri, mahasantri, dosen muda, mahasiswa, dan siapapun di sekitar kita. Menempuh pendidikan S2 dan S3 secara mandiri mungkin semakin terasa berat di tengah himpitan ekonomi saat ini, namun lewat jalur beasiswa PKUMI ini, tidak hanya kesempatan untuk S2 dan S3 tapi sekaligus pengalaman kuliah di luar negeri menjadi sangat nyata mungkin adanya,” pungkasnya penuh optimisme.
Ditulis Oleh: Abdus Salam Bariklana (Santri Pondok Pesantren Darul Falah Besongo)



















