Be-songo.or.id

Dari Bakaran Sosis hingga QRIS: Cara Pesantren Besongo Jawab Tantangan Zaman

SEMARANG — Perubahan zaman menuntut pondok pesantren untuk terus beradaptasi tanpa mengikis nilai-nilai spiritualitas yang menjadi fondasinya. Langkah nyata ini ditunjukkan oleh Pondok Pesantren Darul Falah Besongo Semarang yang secara resmi meluncurkan unit usaha bernama Binawa Mart. Tidak sekadar menjadi wadah perniagaan, Binawa Mart hadir sebagai momentum strategis untuk menginternalisasi nilai-nilai keteladanan Nabi Muhammad SAW yang diwujudkan melalui penguatan spirit santripreneurship (kewirausahaan santri).

Binawa Mart dirancang sebagai payung usaha terpadu yang menaungi berbagai sektor ekonomi potensial di lingkungan pesantren. Unit bisnis yang dikembangkan sangat beragam dan bersentuhan langsung dengan kebutuhan harian, mulai dari penyediaan kebutuhan pokok di toko, layanan jasa photocopy dan percetakan dokumen, hingga sektor kuliner populer seperti jajanan bakaran sosis. Kehadiran lini usaha yang variatif ini membuktikan bahwa pesantren mampu membaca peluang pasar internal sekaligus melatih santri mengelola bisnis secara riil.

M. Faiz Al–Amin, selaku Manager sekaligus Direktur Binawa Mart, menegaskan bahwa pendirian unit usaha ini bertindak sebagai wadah penampung aspirasi berkelanjutan bagi para santri. Menurutnya, Binawa Mart bukan sekadar sarana pencarian keuntungan semata, melainkan laboratorium pembinaan mental dan keterampilan bisnis. Guna memastikan operasional berjalan profesional dan transparan, struktur kepengurusan dibentuk secara sistematis hingga tingkat manajer di setiap bidang usaha. Tata kelola yang rapi ini disiapkan agar para santri belajar memahami manajerial organisasi bisnis modern secara langsung dari bawah.

Aspek kepuasan pelanggan, yang mayoritas merupakan para santri dan masyarakat sekitar, menjadi prioritas utama Binawa Mart. Langkah modernisasi layanan diterapkan secara bertahap melalui pembaruan sistem pembayaran. Jika sebelumnya transaksi masih bersifat konvensional dengan mengandalkan uang tunai (cash only), kini Binawa Mart telah mengintegrasikan sistem pembayaran digital berbasis QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard). Integrasi teknologi ini mempermudah transaksi finansial sekaligus membiasakan para santri dengan ekosistem keuangan digital yang transparan dan efisien.

Selain digitalisasi transaksi, Binawa Mart juga menerapkan standar pelayanan administrasi yang ketat. Manajemen memberlakukan kesepakatan tingkat layanan (Service Level Agreement/SLA) dengan durasi respons cepat 15 hingga 20 menit untuk setiap permintaan layanan admin. Sistem kontrol kualitas juga disediakan secara terbuka: apabila pelanggan mengalami kendala berupa keterlambatan pelayanan (slow response), mereka memiliki akses langsung untuk melapor kepada pihak manajer agar masalah tersebut segera dievaluasi dan diperbaiki.

Acara peluncuran tersebut berlangsung khidmat dengan puncaknya berupa peresmian dan pemotongan pita secara simbolis oleh Pengasuh Pondok Pesantren Darul Falah Besongo Semarang, Prof. Dr. KH. Imam Taufiq, M.Ag. Dalam amanat dan sambutannya, beliau menekankan betapa pentingnya bagi para santri untuk memiliki keterbukaan mental (growth mindset) serta kemandirian ekonomi melalui jalur perdagangan.

“Nabi Muhammad SAW telah memberi teladan nyata bahwa kejujuran dan profesionalisme dalam berdagang tidak hanya mendatangkan keberkahan, tetapi juga membentuk kemandirian finansial yang kokoh. Sudah sepantasnya para santri meneladani rekam jejak beliau untuk menjadi generasi yang mandiri secara ekonomi dan tangguh secara spiritual,” tutur Prof. KH. Imam Taufiq di hadapan para santri dan pengelola Binawa Mart.

Beliau memaparkan bahwa ketika santri kelak menyelesaikan masa studi dan terjun ke tengah masyarakat, sebagian dari mereka akan menjadi tokoh publik atau sosok yang berpengaruh di lingkungannya. Kedudukan sebagai sosok berpengaruh tersebut hanya dapat dicapai apabila seseorang mampu membuktikan empat elemen kunci: value (nilai diri), credibility (kredibilitas), reason (alasan/tujuan mendasar), dan knowledge (pengetahuan luas) yang dibuktikan secara riil. Salah satu pembuktian riil yang sangat krusial adalah melalui kemandirian ekonomi.

Prof. KH. Imam Taufiq meluruskan pandangan mengenai kekayaan materi. Kekayaan bukanlah sarana untuk kesombongan atau sekadar menumpuk harta, melainkan bukti nyata dari kapabilitas dan bekal kemampuan yang dimiliki seseorang. Seseorang yang memiliki kecerdasan intelektual dan agama tentu dapat memberikan manfaat bagi sekitarnya. Namun, seseorang yang pintar sekaligus sejahtera secara ekonomi akan memiliki daya jangkau manfaat yang jauh lebih luas, inklusif, dan berkelanjutan bagi masyarakat.

Lebih jauh lagi, beliau berpesan bahwa aktivitas berdagang merupakan sarana latihan terbaik untuk menggembleng mental ketahanan (resilience). Dunia perniagaan selalu diwarnai oleh dinamika naik-turun dan risiko kegagalan. Karena itu, seorang pedagang muslim yang sukses tidak boleh mudah patah semangat atau menyerah saat menemui kendala.

“Pedagang yang sukses diibaratkan seperti seniman patung. Berbagai bentuk kegagalan adalah ratusan bahkan ribuan pahatan yang menjadikan patung itu indah. Resiliensi adalah kuncinya. Bukan pahatan terakhir yang membuat patung itu indah, melainkan ribuan pahatan sebelumnya yang membentuk mahakarya tersebut,” tambah beliau menggambarkan filosofi ketangguhan usaha.

Melalui peresmian Binawa Mart ini, Pondok Pesantren Darul Falah Besongo Semarang tidak hanya menambah portofolio aset ekonominya, tetapi juga resmi mengoperasikan sebuah pusat pemberdayaan ekonomi santri. Kehadiran Binawa Mart menjadi bukti konkret bahwa tradisi keilmuan pesantren dapat berjalan berdampingan dengan inovasi zaman, menghasilkan lulusan santri yang tidak hanya mahir membaca kitab kuning dan memiliki kedalaman spiritual, tetapi juga adaptif, transparan, profesional, dan mandiri secara ekonomi berlandaskan nilai-nilai luhur kenabian.

Ditulis Oleh: Abdussalam Bariklana (Santriwan Pondok Pesantren Darul Falah Besongo)

REKOMENDASI >