Semarang — Menjadi santri sekaligus mahasiswa bukan hanya tentang membagi waktu antara pondok dan kampus. Bagi Ida Lailatin, perjalanan tersebut menjadi proses untuk belajar bertanggung jawab, mengenal diri, dan terus berkembang. Mahasiswi Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT), Fakultas Ushuluddin dan Humaniora (FUHUM), asal Palembang, Sumatera Selatan, ini berhasil meraih predikat wisudawan terbaik Fakultas Ushuluddin dan Humaniora periode Agustus 2026.
Selama kuliah, Ida memilih untuk fokus menekuni kuliah dan kegiatan di pondok. Ia sempat bergabung dengan UKM Jam’iyyah Hamalatil Qur’an (JHQ) selama dua tahun sebagai bagian dari pengalaman organisasinya. Baginya, mengenali kemampuan diri adalah hal penting daripada mengikuti banyak hal namun kurang optimal. prinsip inilah yang membuat ia bisa menjalankan tugas kuliah dan tanggung jawab di pondok dengan baik.
Keputusan Ida untuk tetap mondok selama kuliah juga didasari keinginannya untuk menjaga diri agar tetap terarah. Ia merasa lingkungan pondok menjadi tempat yang dapat membantunya menjaga diri dan menjalani kehidupan dengan lebih baik dan teratur.
Keseharian Ida dimulai dengan kuliah dari pagi hingga sore. Setelah kembali ke pondok, ia terkadang menggunakan waktu untuk beristirahat sebelum mengikuti kegiatan lainnya. Ia terbiasa mengerjakan tugas lebih awal dan membuat daftar kegiatan harian. Dengan cara tersebut, berbagai tanggung jawab dapat diselesaikan tanpa melupakan waktu istirahat.
Bagi Ida, menjadi santri sekaligus mahasiswa bukanlah sesuatu yang terlalu berat karena merupakan pilihan yang ia jalani dengan senang hati. Salah satu hal yang membantunya dalam perkuliahan adalah kebiasaan membaca materi sebelum kelas. Ia berusaha selalu memiliki pertanyaan saat kuliah karena menurutnya bertanya dapat membantunya memastikan bahwa ia memahami materi.
Predikat wisudawan terbaik pun bukanlah target yang sejak awal ia tetapkan. Ida justru melihat pencapaian tersebut sebagai hasil dari proses, doa orang tua, dukungan orang-orang terdekat, serta semangat belajar dari lingkungan sekitarnya. Ia merasa memiliki tanggung jawab untuk memanfaatkan kesempatan pendidikan yang telah diberikan oleh orang tuanya dengan belajar sebaik mungkin.
Selain perkuliahan, pengalaman menjadi ketua Asrama B9 juga memberikan banyak pelajaran. Dari amanah tersebut, Ida belajar mengatur waktu, peduli terhadap orang lain, bekerja sama, dan bersosialisasi. Berbagai kegiatan pondok yang melibatkannya sebagai panitia juga menambah pengalaman dalam bekerja bersama orang lain. Baginya, pengalaman khidmah di pondok menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan yang ia syukuri.
Kini, Ida merasa bersyukur telah menjadi bagian dari keluarga besar Pondok Darul Falah Besongo. Untuk teman-teman santri yang masih berjuang menjalani kuliah sambil mondok, ia berpesan, “Jalani aja, semua pasti akan selesai pada akhirnya. Jalani semua hal dengan penuh tanggung jawab.” Menurutnya, kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang layak tidak dimiliki semua orang. Karena itu, kesempatan kuliah sekaligus mondok perlu dijalani dengan rasa syukur dan tanggung jawab.
Ditulis Oleh: Awaliyatun Nisa Fitriyani (Santriwati Pondok Pesantren Darul Falah Besongo)
Editor: Della Indana



















