SEMARANG – Bagi seorang santri, perjalanan spiritual sering kali lahir dari tempat-tempat yang paling tak terduga. Hal itulah yang dialami oleh Ahmad Sholekhuddin, seorang santri di Pondok Pesantren Darul Falah Besongo, Semarang. Dari sekadar membaca dan mengaji kitab kuning di sudut pesantren, ia berhasil menginjakkan kaki di Tanah Suci Makkah dan Madinah berkat ketulusan khidmah dan ketaatannya kepada sang pengasuh.
Perjalanan spiritual Ahmad Sholekhuddin hingga akhirnya sampai ke Tanah Suci bermula dari kisah sederhana di Pesantren.
- Awal Mondok dan Niat Murni Khidmah
Pada awal masa perjalanannya sebagai santri di Pondok Pesantren Darul Falah Besongo, bahkan jauh sebelum itu, Sholekhuddin sama sekali tidak pernah memiliki bayangan atau impian muluk untuk bisa menunaikan ibadah umrah. Dua alasan utamanya adalah keterbatasan kemampuan finansial serta perasaan belum saatnya.
Ketika dipercaya masuk dalam jajaran kepengurusan pesantren, fokusnya hanyalah satu: mengabdi. Ia memegang teguh pesan mendalam yang disampaikan oleh Pengasuh PP Darul Falah Besongo, Prof. Dr. KH. Imam Taufiq, M.Ag. : “Al-khidmatu syarafun lillahi” (Khidmah itu adalah sebuah kemuliaan). Ibarat orang yang baru menanam benih, ia belum membayangkan seperti apa “panen kemuliaan” yang dimaksud oleh sang kiai, namun ia terus melangkah dengan niat yang tulus.
- Isyarat Keberkahan Tabarrukan dari Uang 5 Riyal dan Gantungan Kunci dari Kiai
Di pertengahan masa kepengurusan, setelah Abah Imam Taufiq kembali dari menunaikan ibadah umrah, sebuah peristiwa berkesan terjadi. Sebelum ada desas-desus mengenai perlombaan apa pun, Abah Imam memanggil Sholekhuddin dan memberikannya uang tunai sebesar 5 Riyal.
“Iki tak wei 5 riyal, masokno dompetmu ben rejekimu nyambung sampai iso nyusul ke sana,” dawuh Abah Imam Taufiq saat menyerahkan uang tersebut.
Sholekhuddin menerima pemberian berharga tersebut dengan rasa takzim, tanpa bersikap jumawa atau mengandalkan bahwa ia pasti akan berangkat. Tak berhenti di situ, pada kesempatan lain Abah Imam kembali memberinya oleh-oleh berupa gantungan kunci bertuliskan I Love Makkah. Kedua benda tersebut disimpannya rapi sebagai tabarukan, amanah, dan pemicu doa.
- Himpitan Akhir Kepengurusan dan Instruksi Abah Imam
Menjelang akhir masa kepengurusannya, Sholekhuddin dihadapkan pada jadwal kegiatan yang sangat padat dan menguras fisik. Ia harus bolak-balik Semarang–Kendal untuk mengurus program Kampus PLP 2, memfinalisasi lagu Mars Besongo, menyusun Laporan Pertanggungjawaban (LPJ), hingga mengawal proses formatur pergantian pengurus baru bersama rekannya, Mbak Wafiq Uli.
Di tengah situasi yang “pontang-panting” tersebut, muncul informasi mengenai ajang Musabaqah Qira’atul Kutub Nasional (MQKN) yang diselenggarakan oleh PKB/FPTP. Mengetahui batas usia maksimal kepesertaan adalah 22 tahun, Abah Imam Taufiq menanyakan usianya yang saat itu menginjak 21 tahun lebih 5 bulan.
Abah Imam memberi instruksi tegas: “Melu, sek iso.”
- Proses Seleksi, Bimbingan, dan Ketaatan (Sami’na wa ata’na)
Berpegang pada prinsip sami’na wa atha’na (kami mendengar dan kami taat), Sholekhuddin langsung bergerak cepat membagi tugas kepengurusan agar tetap berjalan seimbang. Ia memikul peran ganda: sebagai panitia internal yang menjaring para santri Besongo, sekaligus sebagai peserta lomba.
Dari seleksi internal pesantren, terpilih 4 nama santri: Sholekhuddin, Tasmara, Niha, dan Itsna. Mereka kemudian menjalani masa bimbingan intensif bersama para pengajar, yaitu Ustadz Taju, Ustadz Ma’mun, dan Ustadz Badrus, untuk membagi waktu dan memproduksi video seleksi awal. Hasilnya, Sholekhuddin dan Niha berhasil lolos menuju babak final di Jakarta.
- Kejutan Besar di Jakarta (Min Haitsu La Yahtasib)
Selama proses lomba berlangsung, Sholekhuddin sama sekali tidak pernah memikirkan atau mengharapkan hadiah materi. Niatnya murni ikhlas menjalankan dawuh pengasuh. Secara umum, panitia perlombaan awalnya hanya menginformasikan hadiah berupa uang pembinaan dan sertifikat, dengan wacana bahwa hanya juara 1 yang mendapatkan paket umrah.
Namun, ketetapan Allah bekerja melalui cara yang tak terduga (min haitsu laa yahtasib). Di bawah kepemimpinan Muhaimin Iskandar (Cak Imin) dan panitia FPTP, kebijakan diputuskan bahwa seluruh pemenang dari posisi 1, 2, hingga 3 akan diberangkatkan umrah. Sholekhuddin berhasil mengamankan posisi pemenang dan berhak atas hadiah uang pembinaan beserta paket umrah gratis tersebut.
Kabar ini disambut haru tak hanya oleh keluarga besar Pesantren Besongo, tetapi juga oleh tetangga di desa kelahirannya. Banyak warga berdatangan terharu dan meneteskan air mata menyaksikan seorang santri sederhana dapat berangkat ke Makkah tanpa mengeluarkan biaya.
- Puncak Epifani Spiritual di Tanah Suci
Pemberangkatan umrah yang berlangsung pada bulan Rabiul Awal menjadi puncak pengalaman emosional bagi Sholekhuddin. Selama mengemban ibadah di Tanah Suci, ia konsisten mengamalkan kitab Dala’il Khairat.
Selama berada di pesantren, sesuai ijazah yang diterimanya, ia biasa mencium gambar Ka’bah, makam Nabi Muhammad SAW, dan Masjid Nabawi yang tertera di dalam lembaran kitab Dala’il Khairat sebagai bentuk tabarruk. Namun saat membaca kitab tersebut di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, tangisnya pecah seketika. Bangunan dan tempat suci yang selama ini hanya bisa ia cium gambarnya di lembaran kertas, kini berdiri nyata tepat di depan matanya.
Perjalanan tersebut dihiasi dengan berbagai momen indah: menunaikan ibadah umrah dalam kondisi berpuasa, melaksanakan salat Maghrib dan khataman Dala’il al-khairat di Raudah, serta menyelesaikan khataman Al-Qur’an di pelataran Masjidil Haram.
- Buah Manis Khidmah dan Pesan untuk Para Santri
Pengalaman spiritual ini makin menguatkan keyakinannya akan kebenaran pesan Abah Imam Taufiq. Sholekhuddin menyoroti bahwa khidmah di pesantren sama sekali tidak menghambat prestasi akademik. Hal itu terbukti dari rekan-rekan pengurus intinya (BPH) di PP Darul Falah Besongo seperti Wahyu, Ma’ul, Uli, dan yang lainnya yang berhasil meraih predikat wisudawan terbaik dan lulus tepat waktu, serta kawan-kawan pengurus lain yang meraih penghargaan santri terbaik.
Perjalanan dari ungkapan qala al-mu’allif saat menunduk mengaji di pesantren hingga gema labbaikallah di hadapan Ka’bah menjadi kesaksian nyata baginya. Sholekhuddin berpesan kepada seluruh santri untuk anteng, sungguh = sungguh belajar, taat pada aturan pondok, serta sami’na wa atha’na kepada pengasuh. Sebab, khidmah yang dilakukan dengan ikhlas tidak akan pernah sia-sia dan pasti akan membuahkan hasil indah pada waktunya masing-masing.
Ditulis Oleh: Nur Muchammad Syafi (Santriwan Pondok Pesantren Darul Falah Besongo)



















