Be-songo.or.id

Di Antara Niat, Adab, dan Rida: Menyusuri Nasihat Kitab Washoya Al-Abaa’ lil Abnaa’

Semarang, 12 September 2026 di antara lembaran kitab Washoya Al-Abaa’ lil Abnaa’ yang membersamai temaram fajar, nasihat etika dalam menuntut ilmu disampaikan dalam kajian subuh oleh KH Imam Taufiq, Pengasuh Pondok Pesantren Darul Falah Besongo Semarang. Beliau menguraikan salah satu bab penting dalam kitab klasik karya Syekh Muhammad Syakir itu. Tak sekadar menjelaskan bagaimana ilmu diperoleh, kitab tersebut juga memberikan gambaran seorang penuntut ilmu seyogianya menata diri di hadapan ilmu, guru, dan Tuhannya.

Perjalanan ilmu sungguh lebih panjang dari sekadar ruang kelas, niat menjadi sebuah permulaan untuk tumbuh dalam kesungguhan, dipelihara dengan adab, kemudian disempurnakan oleh tawaduk. Sebab sebelum ilmu bersemayam di kepala, terdapat kalbu yang lebih dahulu menentukan ke mana ilmu tersebut hendak dibawa.

Niat menjadi Standar Keberhasilan

Dalam kajian tersebut, KH Imam Taufiq menjelaskan bahwa “niat menjadi standar keberhasilan seseorang”. Kesuksesan dan masa depan bergantung pada motivasi yang dibangun oleh tiap individu. Lillahita’ala menjadi kunci pertama dalam belajar yang harus terus dilatih dan dipegang teguh supaya tidak menjadikan manusia sebagai dasar tujuan dari segalanya.

يا بنيّ : اقبل على طلب العلم بجدّ ونشاطو

“Wahai anakku: belajarlah dengan sungguh-sungguh dan penuh semangat”

Kesungguhan akan tumbuh dalam jiwa apabila niat dibentuk tanpa rasa keraguan. Sawang sinawang, demikian kiranya manusia memandang kenikmatan, kesuksesan, dan keberhasilan seseorang hanya dilihat oleh mata.

Di era digital ini, media sosial kerap kali menyuguhkan hasil tanpa menghadirkan seluruh proses yang terlibat. Kegagalan ikut serta menguras waktu, kesehatan, dan materi yang berada di luar dari pada bingkai. Keberhasilan tak semestinya dipahami hanya dari apa yang terlihat, melainkan dari kesungguhan, motivasi, dan keteguhan niat yang menyertai proses di baliknya.

Adab: Jalan Sunyi Penuntut Ilmu

Ilmu mampu bersemayam di kepala manusia, tetapi hanya adab yang mampu merawat kesungguhan agar ilmu tak sekadar singgah. Sikap saksama dalam menyimak penjelasan seorang guru merupakan adab dari penuntut ilmu. “Baca dan pahamilah dengan penuh kesungguhan, pada pelajaran yang telah maupun belum dijelaskan oleh gurumu.”. Seorang pelajar tak serta-merta hadir dalam majelis ilmu, tetapi perlu adanya persiapan dalam memahami suatu pembahasan.

Ada adab yang lebih sunyi dalam proses menuai ilmu, kesediaan dalam mengendalikan distraksi, sadar akan penyampaian yang belum dipahami, tak tergesa merasa tahu, serta meluangkan waktu kepada suatu ilmu untuk benar-benar dipahami. Hadir dalam majelis ilmu, tak hanya tentang berada pada tempat yang sama oleh guru, melainkan tentang keutuhan diri kita bersedia hadir ketika ilmu sedang disampaikan.

Rida Guru sebagai Password Utama Keberkahan Ilmu

Tak ada sesuatu yang lebih berbahaya bagi pelajar dari pada kemarahan seorang guru. Rida guru menjadi bagian dari password utama penuntut ilmu meraih keberkahan. Kitab Washoya Al-Abaa’ lil Abnaa’ memberi nasihat agar senantiasa meminta rida guru dalam mendatangkan cahaya ilmu. Sebab ilmu manusia sangatlah sedikit jika dibandingkan dengan luasnya ilmu Allah SWT.

Semakin mudah seseorang meraih segala informasi, terkadang menimbulkan ilusi dalam diri kita seolah pengetahuan yang dimiliki sudah sangat mendalam. Padahal, semakin luas pengetahuan seseorang, semakin besar pula kesadaran terhadap luasnya ilmu yang belum diketahui. Tawaduk menjadi penopang diri untuk berani mengakui keterbatasan diri, tak menjadikan ilmu sebagai alasan untuk merasa lebih tinggi. Pada hakikatnya, puncak dari etika dalam menuntut ilmu ada pada bertambahnya rasa tawaduk kepada Allah SWT. Sadar akan segala bentuk pengetahuan bersumber dari-Nya.

Ditulis Oleh: Fina Nur Anisah (Santri Pondok Pesantren Darul Falah Besongo)

REKOMENDASI >