SEMARANG — Pondok Pesantren Darul Falah Besongo mengadakan seminar dan praktik budidaya ikan lele dalam ember pada Sabtu, 5 September 2026. Kegiatan ini dilakasanakan sebagai upaya memberikan bekal ketrampilan hidup kepada para santri, khususnya dalam bidang budidaya dan ketahanan pangan.
Kebutuhan pangan, sandang dan panggonan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Dalam ungkapan Jawa, ketiga kebutuhan itu menjadi unsur penting yang harus dipenuhi untuk keberlangsungan hidup dalam setiap generasinya. Diantara ketiganya, pangan menjadi kebutuhan yang paling mendasar daripada unsur yang lain. Kekurangan pangan dapat mengganggu metabolisme tubuh manusia. Maka perlu bangunan ketahanan pangan yang mandiri, kreatif dan inovatif.
Kegiatan ini diisi oleh Mas Kemal Abdul Aziz, S. P dari Dinas Perikanan Kota Semarang. Kegiatan ini diikuti oleh pengasuh, ustaz dan ustazah, warga, santri kelas 4, serta beberapa delegasi dari asrama. Keterlibatan santri putra dan putri dalam kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pesantren dalam memberikan kesempatan belajar dan keterampilan secara merata.
Pengasuh Pondok Pesantren Darul Falah Besongo, Umi Ny. Hj. Arikhah, menyampaikan bahwa keterampilan budidaya dapat menjadi salah satu bekal penting bagi santri ketika nantinya kembali ke tengah masyarakat.
“ilmu itu tidak berkelamin,” tutur Umi Ny. Hj. Arikhah
Sesuai dengan hadis Nabi Muhammad saw;
طلب العلم فريضة على كل مسلم
“Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap muslim”, (Abdullah Shonhaji, Terjemah Sunan Ibnu Majah, [Asy Syifa 1992], Jus ll, hadis no. 224, hal. 181-182. Menggunakan kata “muslim” yang mengena laki-laki dan perempuan sekaligus.
Lurah Pondok Pesantren Darul Falah Besongo, Jihan Siti Afifah, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut secara khusus diarahkan untuk memberikan pengalaman langsung kepada para santri dalam melakukan budidaya ikan.
“Maksud diadakan kegiatan ini adalah untuk bekal teman-teman santri dari merawat untuk berbudidaya ikan lele,” ungkap Jihan Siti Afifah.
Budidaya ikan lele dipilih karena dapat dilakukan dengan sarana sederhana dan tidak membutuhkan lahan yang luas. Selain itu, ikan lele memiliki sejumlah keunggulan, di antaranya relatif mudah dibudidayakan, masa pemeliharaan yang relatif singkat, serta menjadi salah satu sumber protein yang terjangkau.
Kegiatan ini juga berkaitan dengan upaya membangun ketahanan pangan di lingkungan pesantren. Budidaya ikan dan sayuran secara mandiri dapat menjadi alternatif pemenuhan kebutuhan pangan sekaligus memberikan pengalaman produktif kepada para santri.
Hal ini relevan dengan kondisi harga sejumlah bahan pangan di Kota Semarang. Dalam beberapa pemberitaan media pada 2026, harga sejumlah komoditas, seperti sayuran, telur, dan daging, mengalami kenaikan di sejumlah pasar.
“Ketika bahan-bahan pokok mahal seperti sayur-sayuran, kita punya sendiri”, tutur Umi Ny. Hj. Arikhah.
Selain memberikan keterampilan budidaya, kegiatan tersebut juga diharapkan dapat menumbuhkan semangat kemandirian dan produktivitas santri. Ketua RT Perumahan Bank Niaga, Bapak Guguk Supriharjo, turut menyampaikan pentingnya keberanian untuk mengembangkan potensi yang dimiliki.
“Jangan berfikir menjadi pegawai negeri, berbuatlah terhadap apa yang disukai,” tutur Bapak Guguk Supriharjo.
Menurutnya, keterampilan budidaya dapat menjadi salah satu peluang yang dikembangkan menjadi kegiatan produktif dan bernilai ekonomi. Dengan demikian, santri tidak hanya dipersiapkan untuk mencari pekerjaan, tetapi juga memiliki kemampuan untuk menciptakan kegiatan yang bermanfaat bagi dirinya dan masyarakat.
Sesungguhnya manfaat terbesar budidaya kangkung dan iken lele dalam ember terletak pada kehalalan yang menyehatkan. Ditanam sendiri, dirawat sendiri dan dimanfaatkan hasilnya untuk kebersamaan. Umi Ny. Hj. Arikhah menuturkan, “setidaknya secara ekonomi tidak semplah, tidak lesu, karena tangannya obah”. Ketika tangan bergerak secara baik maka akan menambah kebaikan pula.
Kegiatan seminar dan praktik budidaya kemudian ditutup dengan do’a dan pesan dari Pengasuh Pondok Pesantren Darul Falah Besongo, Abah K.H. Imam Taufiq.
“Ngaji hal-hal yang tidak dibahas oleh kitab, ngaji kehidupan sebagai bekal kedepan dan penopang kehidupan,” tutur beliau.
Sebuah pesan menjadi penegasan bahwa pendidikan di pesantren tidak hanya berhenti pada pembelajaran ilmu keagamaan, tetapi juga mencakup pembelajaran kehidupan. Melalui kegiatan budidaya ikan lele dalam ember, para santri diharapkan memperoleh pengalaman praktis yang dapat menjadi bekal dalam membangun kemandirian, ketahanan pangan, dan kecakapan hidup di masa mendatang.
Ditulis Oleh: Ahda Fathan Zidni (Santriwan Pondok Pesantren Darul Falah Besongo)
Editor: Della Indana



















