Semarang – Menjalani peran sebagai mahasiswa sekaligus santri bukanlah perkara mudah. Namun, Achmad Solekhudin berhasil membuktikan keduanya dapat berjalan beriringan. Santri asal Grobogan yang kini memasuki tahun keempatnya di Pondok Pesantren Darul Falah Besongo dipercaya menyandang predikat Santri Teladan pada Akhirussanah 2026.
Bagi Solekhudin, Besongo bukan sekedar tempat tinggal selama menempuh pendidikan. Selain berada di lokasi yang strategis diantara Kampus 2 dan Kampus 3 UIN Walisongo Semarang, pesantren ini memiliki sistem kurikulum yang tertata dan lengkap, hal ini menjadi pembeda utama yang memantapkan langkahnya berproses di Besongo.
Seiring berjalannya waktu, pilihan untuk mondok di Besongo tidak hanya mempertemukannya dengan lingkungan belajar yang kondusif, tetapi juga menjadi bagian penting dalam proses pembentukan karakter dan pola pikirnya. Selama empat tahun berproses di Besongo, putra pasangan Bapak Nur Chamid dan Ibu Murniti ini merasakan bagaimana suasana di Besongo turut membentuk cara pandang dalam menyikapi berbagai persoalan. Berbagai forum diskusi keilmuan seperti musyawarah dan Bahtsul Masa’il menjadi ruang yang dapat menumbuhkan kemampuan berpikir kritis dan analitis.
Tak hanya dalam aspek keilmuan, Solekhudin juga aktif dalam kepengurusan pondok. Pada periode 2024/2025, ia dipercaya mengemban amanah sebagai Lurah Pondok Kabinet Maslahah, posisi yang memberinya ruang lebih luas untuk belajar memimpin sekaligus menge, berkhidmah, dan menghadapi berbagai dinamika organisasi ”Di kepengurusan, semua hal yang awalnya kita tidak tahu dan tidak bisa, lambat laun akan dituntut untuk bisa kita kuasai bersama,” ungkap Solekhudin.
Dedikasi dalam belajar dan berkhidmat mengantarkan Sholehuddin meraih predikat Santri Teladan. Namun, bagi dirinya, pengharran tersebut bukan sekedar bentuk apresiasi, melainkan amanah yang membawa tanggung jawab moral yang besar. Menurutnya, predikat teladan tidak hanya berlaku pada saat menerima penghargaan, tetapi juga harus tercermin dalam kehidupan sehari-hari.
“Jujur, awalnya kaget karena memikul predikat teladan yang berat. Perilaku kita harus selalu mawas diri dalam keseharian. Tindakan kita harus mencerminkan tanggung jawab tersebut,karena kini setiap langkah menjadi contoh langsung bagi santri lainnya,” ungkapnya.
Ia menilai, predikat ini menuntut kita untuk selalu mawas diri dalam keseharian. Setiap tindakan harus mencerminkan tanggung jawab moral, sebab seorang santri teladan harus benar-benar mampu menjadi contoh nyata bagi yang lain. Bagi Solekhudin, proses belajar di Besongo tidak hanya memberikan pengalaman intelektual dan organisasi. Ia juga menemukan nilai penting dalam tradisi sanad keilmuan yang diwariskan para guru dan pengasuh pesantren.
Ketika berbicara mengenai keistimewaan Besongo, ia menilai sanad keilmuan yang dimiliki pesantren Besongo menjadi salah satu hal yang paling istimewa. Menurutnya, jalur transmisi ilmu yang diterima dari pengasuh, yakni dari Abah Imam Taufiq dan Umi Arikhkah, memiliki keterhubungan yang jelas dan bersambung (muttashil).
Ia menjelaskan, sanad keilmuan tersebut tersambung kuat kepada Mbah basyir, para masayikh, hingga bermuara pada pengarang kitab legendaris Dalai’il al-Khairat, Syeikh Sulaiman al-Jazuli yang sanadnya langsung terhubung kepada Nabi Muhammad SAW. Baginya, kejelasan sanad menjadi nilai penting karena menunjukkan pertanggungjawaban keilmuan yang jelas.
“Keluar dari besongo, ini membawa mata rantai sanad emas ini. Ada rasa bangga yang luar biasa karena ilmu yang kita pelajari memiliki pertanggungjawaban spiritual yang jelas,” ungkapnya.
Solekhudin juga menepis anggapan dunia luar yang sering kali mengecap kehidupan santri sebagi lingkaran yang (kolot) kuno atau tertinggal oleh zaman. Baginya, santri masa kini adalah pribadi yang teguh (tetek lan bakoh). Prinsip yang ia pegang sederhana, yakni “Santri iku sinau, anteng, beres, tirakat, riyadhah, lan istiqomah”. Santri itu harus terus belajar, tenang, disiplin dalam menyelesaikan tanggung jawab, membiasakan tirakat dan riyadhah, serta menjaga konsistensi dalam setiap proses yang dijalani.
Prinsip tersebut juga tercermin dalam dirinya mengatur waktu antara perkuliahan dan kehidupan pesantren. Ia membagi aktivitas secara proporsional dengan memfokuskan kegiatan akademik pada pagi hingga siang hari, sementara kegiatan pesantren menjadi prioritas utama utama pada malam hari. Jika terjadi benturan agenda, ia selalu mengutamakan skala prioritas agar seluruh tanggung jawab dapat dijalankan dengan baik.
sebagai penutup, ia memberikan pesan kepara seluruh santri yang saat ini tengah berproses di Besongo. Ia mengingatkan bahwa kesempatan mondok di Besongo adalah sebuah keistimewaan yang tidak didapatkan oleh sembarang orang.
“Mondok di sini adalah berkah pilihan. Kuncinya ada dua, Jalani proses mencari ilmu (ngelmu) sekaligus pengabdian (khidmat) ini dengan tulus. Jika ilmu dijalani dan tirakat dilakukan secara konsisten, maka tidak ada gerbang akhir yang menanti di ujung jalan selain kesuksesan yang penuh berkah,” tuturnya.
Bagi Solekhudin, keberhasilan tidak hanya diukur dari capaian yang diraih selama mondok, tapi juga dari kesungguhan dalam menjalani setiap proses yang telah dipilih. Pesan itu sekaligus menjadi cerminan perjalanan yang telah ia tempuh selama empat tahun di Besongo: belajar dengan sungguh-sungguh, berkhidmat dengan tulus, dan terus berupaya menjadi pribadi yang lebih baik.
Ditulis Oleh: Jamilatuzzahroh Alfitriyani (Santriwati Pondok Pesantren Darul Falah Besongo)
Editor: Della Indana



















