SEMARANG – Menjalani dualitas peran sebagai santri sekaligus mahasiswa bukanlah perkara mudah. Namun, Abdus Salam Bariklana puta dari Bapak Ghufron Hudaya dan Ibu Suniatun Nafisah, santri asal Jepara yang telah empat tahun berproses di Pondok Pesantren Darul Falah Besongo, sukses membuktikan bahwa dua entitas tersebut dapat bersinergi secara harmonis. Atas dedikasi yang konsisten, ia resmi dinobatkan sebagai Santri Terbaik pada momen Akhirussanah 2026. Bagi Bariklana, pencapaian ini adalah bentuk balas budi atas pengorbanan kedua orang tuanya.
Bagi Bariklana, Besongo bukan sekadar tempat tinggal, melainkan lingkungan yang menawarkan sintesis ideal antara khazanah kitab kuning dan pengembangan kompetensi era modern. Ia menjelaskan bahwa peran mahasantri saat ini menuntut kombinasi soft skill dan hard skill yang mumpuni sebagai bekal masa depan.
Bariklana, yang memiliki profil organisatoris, menemukan wadah untuk mengembangkan kapasitas dalam ranah “leadership, partnership, hingga relationship“. Keterampilannya pun terasah dalam ranah teknis, seperti “decision-making, skala prioritas dalam manajemen waktu, critical thinking, analytical thinking, hingga problem solving“. Kapasitas kepemimpinan ini ia buktikan melalui tanggung jawab di berbagai acara kampus hingga program pengabdian masyarakat, termasuk program PBA Mengajar selama dua periode.
Dalam merespons dinamika waktu yang padat, Bariklana mengadopsi prinsip Fiqih Aulawiyah atau fiqih prioritas. Ia menegaskan bahwa manajemen waktu adalah seni menempatkan sesuatu pada tempatnya secara proporsional sebagai wujud disiplin dan konsistensi tinggi. Baginya, jika seseorang mengemban amanah penting di pondok sementara agenda kampus tidak terlalu padat, maka kepentingan pondok harus diutamakan, dan begitupun sebaliknya. Ia menekankan bahwa meskipun setiap pilihan hidup mengandung risiko, manajemen yang baik dapat memitigasi risiko tersebut. Pesan moralnya sangat tegas: “Jangan pernah menunda suatu hal apa pun itu,” karena setiap santri terikat janji khidmah dengan pengasuh dan amanah dari orang tua.
Secara intelektual, Bariklana memandang produktivitas sebagai perjalanan internal untuk terus melampaui diri sendiri dibandingkan hari kemarin. Mengutip prinsip Albert Einstein, “I have no special talent. I am passionately curious,” ia menjadikan rasa ingin tahu yang besar sebagai bahan bakar utama untuk terus berkembang. Ia menolak perbandingan hasil dengan orang lain, mengibaratkan seperti ikan yang tidak bisa dipaksa bersaing memanjat pohon untuk bersaing dengan kera, baginya setiap individu memiliki representasi proses yang unik dan berharga.
Dalam memandang Besongo, Bariklana menganggapnya sebagai lembaga yang unggul karena menyediakan seminar dengan tokoh nasional seperti Pak Fahruddin Faiz secara gratis, yang menurutnya mencerminkan kualitas pondok itu sendiri. Menanggapi pandangan miring masyarakat, ia justru menjadikan cibiran sebagai bahan bakar untuk menempa diri agar siap terjun ke masyarakat kelak. Sosok Abah dan Umi ia gambarkan sebagai kompas spiritual. Kasih sayang beliau laksana lautan luas bagi santri yang hanyalah buih. Sementara dalam hal keilmuan, beliau adalah bulan dan gemerlap bintang di malam hari.
Sebagai penutup, ia menegaskan bahwa janji suci khidmah yang diucapkan di hadapan Abah dan Umi adalah kontrak moral yang harus dijaga. Bagi Bariklana, menjaga nama baik pondok, menaati peraturan, serta tidak menimbulkan kegaduhan adalah perwujudan nyata dari sebuah khidmah. “Jika kalian melanggar aturan, ingatlah siapa orang pertama yang kalian khianati,” tegasnya sebagai pengingat bagi seluruh santri.
Ditulis Oleh : Nur Muchammad Syafi (Santri Pondok Pesantren Darul Falah Besongo)
Editor : Della Indana



















