Semarang– di Tengah kesibukannya sebagai mahasiswi, Cinta Ayu Kusuma Hati putri dari Bapak Abdul Hadi dan Ibu Surapi konsisten menjaga komitmennya sebagai seorang santri di Pondok Pesantren Darul Falah Besongo Semarang. Kemampuan membagi waktu antara tanggung jawab akademik dan kegiatan pesantren selama empat tahun mengantarkannya meraih predikat salah satu santri terbaik.
Menurut Cinta, pilihan untuk mondok di Besongo berasal dari rekomendasi teman alumni. Namun, ketertarikan pribadi semakin kuat terhadap program pengembangan soft skill yang ditampilkan melalui akun media sosial pondok. “Besongo memiliki keunikan karena dirancang khusus bagi mahasiswa yang menggabungkan antara tradisi kajian kitab turots dengan kebutuhan mahasiswa yang ingin berkembang di berbagai bidang,” ujarnya. Ia juga menyebut faktor dzuriyah pengasuh yang berkeilmuan dan kharismatik sebagai alasan lain yang meyakinkan untuk menimba ilmu di Darul Falah Besongo.
Selama mondok, kegiatan yang paling berpengaruh baginya adalah ngaos kitab. Selain memperdalam ilmu agama, ia juga memperoleh pembelajaran leadership melalui berbagai pengalaman kepengurusan dan kepanitiaan yang diamanahkan kepadanya. Pengalaman ini membantu menyiapkan dan membentuk dirinya menjadi pribadi yang lebih bertanggung jawab dan siap menghadapi peran sosial di masyarakat.
Saat namanya diumumkan sebagai penerima predikat Santri Terbaik, ia mengaku merasa sangat terkejut. Namun di balik kebahagiaan tersebut, ia juga merasakan tanggung jawab besar. Baginya, predikat ini bukanlah sesuatu ajang pamer, namun menjadi sebuah refleksi diri apakah sikap sehari-hari sudah pantas menyandang amanah itu. Ia menambahkan bahwa penghargaan itu juga tidak terlepas dari berkah doa orang tua dan berkah para pengasuh pondok.
Sosok yang paling menginspirasi Cinta dalam perjalanan belajarnya adalah umi Arikhah. “Setiap wejangan, arahan, bahkan nasihat beliau adalah teladan hidup yang selalu dipegang,” ujarnya. Salah satu pesan yang melekat di hatinya adalah dawuh “Allah tujuan, yang lain ujian”.
Baginya sebagai mahasiswi yang juga aktif di lingkungan pesantren, kunci membagi waktu antara kuliah dan mondok terletak pada skala prioritas dan disiplin pribadi. Ia memetakan waktu sehingga aktivitas kampus dominan pada siang hari, sementara malam hingga subuh difokuskan untuk kegiatan pondok seperti ngaji dan berjama’ah. Menurutnya, Besongo telah menerapkan pola waktu ideal bagi santri yang kuliah sehingga keduanya dapat berjalan beriringan tanpa saling mengorbankan. Ia juga menerapkan disiplin waktu dengan menghindari kebiasaan begadang serta berusaha menyelesaikan pekerjaan sesegera mungkin tanpa menundanya.
Cinta menggambarkan pondok Pesantren Darul Falah sebagai miniatur masyarakat yang melatih santri untuk hidup berdampingan dengan menghadapi dinamika sosial. Pengalaman tersebut menjadi bekal berharga sebelum terjun langsung ke tengah masyarakat. Ia menilai keistimewaan Besongo terletak pada kemampuan mendidik santri agar adaptif, berkarakter serta mampu memadukan nilai-nilai pesantren salaf dengan pola pikir modern khas mahasiswa.
Lebih dari sekedar tempat menuntut ilmu, menurutnya selama mondok Cinta merasa banyak berubah. Ia mempelajari ketulusan, kesabaran melalui khidmah, dan bagaimana berkontribusi pada isu-isu sosial kemasyarakatan. Ia berharap menghancurkan stigma bahwa kehidupan santri itu kolot. “Santri hari ini adalah manusia adaptif, kreatif, dan memiliki banyak potensi” tegasnya.
Cinta juga memberikan pesan untuk seluruh santri untuk terus bersemangat dalam berkhidmah. Ia mengingat dawuh Abah Imam Taufiq yang selalu menjadi pegangan hidupnya, yaitu “Khidmah dengan gembira.” Baginya, meskipun khidmah di pesantren terkadang melelahkan, tetapi perlu ditelaah bersama bahwa lewat jalan khidmah lah bisa membentuk karakter kita ke pribadi yang lebih baik. Tetaplah berkhidmah dengan gembira dan penuh takdzim.
Ditulis Oleh: Siti Rufaida Aminatussalimah Hilman (Santriwati Pondok Pesantren Darul Falah Besongo)
Editor: Della Indana



















